JANGAN SAMPAI RAMADHAN KITA TERSIAKAN
Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Keutamaan beribadah di dalamnya ini sangat besar sekali. Di antaranya; kisah dua orang yang masuk Islam kemudian yang satu meninggal syahid fii sabiilillah, kemudian orang kedua meninggal setahun setelahnya. Dan dia telah mendapati Ramadhan dan mengerjakan berabagai ketaatan dan ibadah di sepanjang hidupnya. Maka ketika masuk Surga, orang yang mati syahid disalip/ didahului oleh orang yang kedua (yang tidak mati syahid), bahkan jauhnya jarak antara keduanya adalah seperti jarak langit dan bumi.
Kemudian betapa istimewanya Ramadhan dengan ibadah puasanya sampai-sampai Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan dalam haditsnya;
قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, “Semua amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu bagi-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (Muttafaq ‘alaih).
Al Imam An Nawawi menerangkan firman Alloh Ta’ala, “وَأَنَا أَجْزِى بِهِ (dan Aku sendiri yang akan membalasnya)”: Ini menjelaskan betapa besar keutamaannya dan amat banyak pahalanya (lihat Syarah Shohih Muslim jilid IV cet. Daar Ibnu Haitsam hal. 482).
Dan masih banyak keutamaan ibadah di bulan Ramadhan yang lainnya, seperti: adanya syafaat dari puasa dan al Qur’an bagi orang yang beribadah dengannya. Ampunan dan pembebasan dari api neraka setiap harinya. Untuk orang2 yang berpuasa Ramadhan akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan lain sebagainya.
Untuk itu kesempatan yang belum tentu kita dapati di tahun depan ini, kita gunakan semaksimal mungkin agar jangan sampai Ramadhan kita tersia-siakan.
Beberapa hal yang harus kita hadirkan agar Ramadhan kita tidak tersiakan;
1. Tumbuhkan nilai-nilai TAQWA dalam diri kita.
Bahkan secara langsung Alloh SWT menggandengkan antara TAQWA dengan perintah berpuasa Ramadhan. Alloh SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣)
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183)
Dari ibadah puasa yang sungguh-sungguh ini Alloh bermaksud menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, sebab Alloh hanya menerima ibadah dari orang-orang yang bertaqwa. Alloh berfirman,
…إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ ٢٧
"..Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal ibadah/ qurban) dari orang-orang yang bertakwa" (QS. Al-Maidah: 27)
2. Perhatikan kualitas ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya.
Sebab ada orang-orang yang berpuasa tapi tidak dapet apa-apa kecuali capek doang. Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa salam mengabarkan akan hal ini. Beliau bersabda,
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ, وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga. Dan betapa banyak orang yang shalat malam, yang ia dapatkan dari shalatnya hanyalah begadang.” (HR. Ahmad, dari Abu Hurairah ra).
Kenapa demikian? Karena dia tidak memperhatikan kualitas puasa, di antaranya;
1). Tidak benar dalam niatnya (baik caranya maupun tujuannya).
Padalah niat itu bagian yang sangat penting dalam ibadah. Dan setiap amal bergantung pada niatnya. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Dalil wajibnya berniat adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih).
Untuk ibadah puasa Ramadhan, niatnya harus dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Dalilnya adalah hadits dari Hafshoh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
“Siapa yang belum berniat di malam hari sebelum Shubuh, maka tidak ada puasa untuknya.” (HR. An Nasai no. 2333, Ibnu Majah no. 1700 dan Abu Daud no. 2454.. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).
Penulis Kifayatul Akhyar berkata, “Wajib berniat di malam hari. Kalau sudah berniat di malam hari (sebelum Shubuh), masih diperbolehkan makan, tidur dan jima’ (hubungan intim). Jika seseorang berniat puasa Ramadhan sesudah terbit fajar Shubuh, maka tidaklah sah.” (Kifayatul Akhyar, hal. 248).
2). Banyak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Pembatal puasa itu ada dua bentuk:
a. Pembatal amal puasa
b. Pembatal pahala puasa
Pembatal amal puasa:
1. Makan dan minum dengan sengaja
2. Keluar mani dengan sengaja
3. Muntah dengan sengaja
4. Keluarnya darah haid dan nifas
5. Menjadi gila
6. Riddah (murtad)
7. Berniat untuk berbuka
8. Merokok
9. Jima (bersenggama) di tengah hari puasa. Selain membatalkan puasa dan wajib meng-qadha puasa, juga diwajibkan menunaikan kafarah membebaskan seorang budak, jika tidak ada maka puasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin.
Alhamdulillah di Indonesia (di Sebagian tempat), untuk masalah pembatal amal puasa ini sangat bersemangat. Sampai-sampai hal-hal yang tidak membatalkan puasa pun diyakini sebagai pembatal puasa. Seperti; nangis, kentut di air, berrenang di siang hari, korek-korek kuping/ hidung, dll.
Adapun pembatal pahala puasa, ini banyak dilakukan oleh orang-orang. Ini hati-hati, jangan sampai puasa kita menjadi sia-sia (gara-gara melakukan pembatal2 pahala puasa). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).
Apa yang dimaksud dengan az zuur? As Suyuthi mengatakan bahwa az zuur adalah berkata dusta dan memfitnah (buhtan). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah)
Yang lainnya, yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia adalah perkataan lagwu dan rofats.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih).
Apa yang dimaksud dengan lagwu?
Dalam Fathul Bari (3/346), Al Akhfasy mengatakan,
اللَّغْو الْكَلَام الَّذِي لَا أَصْل لَهُ مِنْ الْبَاطِل وَشَبَهِه
“Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.”
Lalu apa yang dimaksudkan dengan rofats?
Dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar mengatakan,
وَيُطْلَق عَلَى التَّعْرِيض بِهِ وَعَلَى الْفُحْش فِي الْقَوْل
“Istilah Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.”
Al Azhari mengatakan,
الرَّفَثُ اِسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُرِيدهُ الرَّجُلُ مِنْ الْمَرْأَة
“Istilah rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita.” Atau dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno.
Kemudian, di antara amalan yang menjadikan ibadah puasa menjadi sia-sia adalah melakukan perbuatan maksiat.
Ingatlah bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram.
Ibnu Rojab Al Hambali berikut :
“Ketahuilah, amalan taqorub (mendekatkan diri) pada Allah Ta’ala dengan meninggalkan berbagai syahwat (yang sebenarnya mubah ketika di luar puasa seperti makan, minum atau berhubungan badan dengan istri, pen) tidak akan sempurna hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.” (Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah).
Jabir bin ‘Abdillah mengatakan :
إذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُك وَبَصَرُك وَلِسَانُك عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَآثِمِ، وَدَعْ أَذَى الْخَادِمِ، ولْيَكُنْ عَلَيْك وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صِيَامِكَ سَوَاءً»
“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah).
Itulah sejelek-jelek puasa yaitu hanya menahan lapar dan dahaga saja, sedangkan maksiat masih terus dilakukan. Hendaknya seseorang menahan anggota badan lainnya dari berbuat maksiat. Ibnu Rojab mengatakan,
أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ
“Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.”
3. Meneladani Rasulullah SAW dalam mengisi hari-hari di bulan Ramadhan.
Mulai dari bangun tidur sampai kita tidur lagi, kita berusaha untuk melakukan apa-apa yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW di bulan Ramdhan.
Makan sahur, shalat subuh berjama’ah, dzikir pagi, shalat dhuha, shalat dhuhur berjama’ah (jangan lupa shalat2 sunnahnya), shalat ashar berjama’ah, dzikir sore, berdoa sambil menunggu waktu berbuka puasa, memberi makan orang yang berbuka puasa, perbanyak sedekah, shalat Maghrib berjama’ah, shalat isya berjama’ah, dilanjutkan shalat tarawih berjama’ah, tilawah Al Qur’an, membaca dzikir atau doa sebelum tidur, dst.
----------------------------
Disusun oleh: Anas Abdillah, S.Ud
Komentar