ADAB KEPADA GURU

ADAB KEPADA GURU

  • Rabu, 20 Mei 2026 15:06
  • Kajian Keislaman
  • Hits: 1

ADAB TERHADAP GURU

Makna Adab

Apa yang dimaksud dengan adab?

Di dalam Kitab Fathul Bari (Syarah Shahih al Bukhari), Ibnu Hajar Al ‘Asqalani rahimahullah menyebutkan:

وَالْأَدَبُ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا. وَعَبَّرَ بَعْضُهُمْ عَنْهُ بِأَنَّهُ الْأَخْذُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ

“Al adab artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinsikan, adab adalah menerapkan akhlak-akhlak yang mulia” (Fathul Bari, 10/400).

Pembagian adab:

Adab tidak hanya terbatas pada pergaulan sesama manusia, namun cakupannya sangat luas, di antaranya:

1. Adab kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala

Ini dapat diwujudkan dengan; penghambaan hanya kepada-Nya, tidak berbuat syirik kepda-Nya, menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dst.

2. Adab kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam

Dengan mencintai dan mengikuti jejak kehidupan beliau serta melaksanakan perintah-perintah beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam. Tidak menetapkan suatu hukum/ keputusan sebelum datang ketetapan dari Alloh dan Rosul-Nya, tidak bersuara melebihi suara Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, dst.

3. Adab kepada orang lain

Dengan menunjukkan wajah berseri, penuh toleransi, lemah lembut, santun Ketika menemui mereka, menghormati mereka, dst.

4. Adab-adab umum sesuai dengan kondisi dan keadaan

Adab berbicara, adab bermajelis, adab-adab ketika safar, adab bertamu, adab makan dan minum, dst.

Di dalam Islam, adab memiliki kedudukan yang sangat penting.

Ali bin Abi Thalib radhiyallohu ‘anhu, ketika menafsirkan firman Alloh surat At-Tahrim ayat 6 (perintah menjaga diri dan keluarga dari api neraka),

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا …

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..” (QS. At-Tahrim: 6). Ali bin Abi Thalib radhiyallohu ‘anhu mengatakan;

أَدِّبُواهُمْ وَعَلِّمُواهُمْ

“Ajarilah mereka adab dan jarilah mereka ilmu”.

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

تَأَدَّبُوا ثُمَّ تَعَلَّمُوا

“Beradablah kalian, kemudian belajarlah (menuntut ilmulah)”

Imam Malik rahimahulloh pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy,

يَا ابْنَ أَخِي، تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ

“Wahai anak saudaraku, belajarlah tentang adab sebelum engkau belajar ilmu.” [Hilyatul Auliya’ 6/330, oleh Abu Nu’am]

Ibnul Mubarok rahimahulloh berkata,

تعلمنا الأدبَ ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Seorang guru sangat berperan besar dalam penyebaran ilmu, apalagi jika yang disebarkan adalah ilmu agama yang mulia ini. Para pewaris nabi begitu julukan mereka para pemegang kemulian ilmu agama. Tinggi kedudukan mereka di hadapan Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa.

إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang banyak”
(HR. at-Tirmidzi, no. 2682, dan lainnya. Ahli hadits syaikh Al-Albani mengatakan sanadnya hasan dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib, 1/139).

Adab kepada guru adalah wujud sikap hormat, sopan santun, dan rendah hati seorang murid kepada pendidiknya. Menerapkan adab ini sangat penting karena menjadi kunci utama agar ilmu yang diajarkan menjadi berkah dan bermanfaat di dunia maupun akhirat.

Berikut adalah bentuk-bentuk adab-adab seorang santri/murid kepada guru:

  1. Mendahului menyapa dan mengucapkan salam setiap kali bertemu guru/ustadz, serta mencium tangan sebagai tanda penghormatan.

Dalam adab-adab mengucapkan salam, maka hendaknya yang muda memberi salam kepada yang lebih tua.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: [قَالَ] رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم: «لِيُسَلِّمِ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ, وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ, وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. (١)
وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: «وَالرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي». (٢)

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Hendaklah salam itu diucapkan oleh yang muda kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak.” (Muttafaqun Alaihi)

Kata Al-Hāfizh Ibnu Hajar rh,

وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِم: وَالرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي

“Dan dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; yang berkendaraan hendaknya memberi salam kepada yang berjalan.”

Hadits tentang mencium tangan orang sholeh, orang berilmu atau orang yang lebih dituakan;

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ عُمَرَ قَامَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلَ يَدَهُ

Dari Jabir Radhiallahu anhu, bahwa Umar bergegas menuju Rasulullah lalu mencium tangannya” (HR. Ahmad dan Ibnul Muqri dalam Taqbilu Al-Yad, Ibnu Hajar mengatakan, sanadnya Jayyid [1/18]).

Mencium tangan bukan kekhususan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.

Dari Ammar bin abi Ammar, pernah Zaid bin Tsabit mengatakan kepada Ibnu Abbas, “berikanlah tanganmu.” Maka diberikanlah tangan ibnu Abbas lalu zaid menciumnya” (HR. Ibnu Saad dan Al-Hafidz ibnu hajar mengatakan sanadnya Jayyid).

Berkata Syaikh Ibnu ‘Ustaimin rh dalam Fatawa Al-Bab Al-Maftuh, “Mencium tangan sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang berhak dihormati seperti ayah, para orang-orang tua, guru tidaklah mengapa.”

2. Menghormati Guru, memperhatikan penjelasan guru, berbicara sopan, tidak meninggikan suara dan meminta izin Ketika ingin bertanya atau menyampaikan pendapat.

Para shahabat nabi dan para ulama salafushshalih telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap seorang guru. Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata,

كُنَّا جُلُوسًا فِي الْمَسْجِدِ إِذْ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ فَجَلَسَ إِلَيْنَا، فَكَأَنَّ عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرَ، لَا يَتَكَلَّمُ أَحَدٌ مِنَّا

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Ibnu Abbas seorang sahabat yang mulia berkata,

هَكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِعُلَمَائِنَا

“Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami”.

Berkata Abdurahman bin Harmalah Al Aslami,

مَا كَانَ إِنْسَانٌ يَجْتَرِئُ عَلَى سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ يَسْأَلُهُ عَنْ شَيْءٍ حَتَّى يَسْتَأْذِنَهُ كَمَا يُسْتَأْذَنُ الْأَمِيرُ

“Tidaklah sesorang berani bertanya kepada Said bin Musayyib, sampai dia meminta izin, layaknya meminta izin kepada seorang raja”.

Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata,

مَا وَاللَّهِ اجْتَرَأْتُ أَنْ أَشْرَبَ الْمَاءَ وَالشَّافِعِيُّ يَنْظُرُ إِلَيَّ هَيْبَةً لَهُ

“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Asy-Syafi’i melihatku, karena segan kepadanya”.

Diriwayatkan oleh Al–Imam Baihaqi, Umar bin Khattab ra mengatakan,

تَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ

“Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian”.

Al Imam As Syafi’i berkata,

كُنْتُ أَصْفَحُ الْوَرَقَةَ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ صَفْحًا رَفِيقًا هَيْبَةً لَهُ لِئَلَّا يَسْمَعَ وَقْعَهَا

“Dulu aku membolak balikkan kertas di depan Imam Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya”.

3. Tawadhu (Rendah Hati): Tidak merasa lebih pintar dari guru dan tidak mendebat mereka di depan umum.

Diriwayatkan oleh Al–Imam Baihaqi, Umar bin Khattab ra mengatakan,

تَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ

“Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama” (HR. Ahmad dan disahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami).

DR. Umar As-Sufyani Hafidzahullah mengatakan, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari dampak buruk.”

Para guru bukan malaikat, kadang kala mereka berbuat kesalahan. Akan tetapi jangan mencari-cari kesalahannya, ingatlah firman Allah.

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya” (QS. Al Hujurot:12).

Allah melarang mencari kesalahan orang lain dan menggibahnya, larangan ini umum tidak boleh mencari kesalahan siapapun.

Sungguh baik para Salaf dalam doanya,

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَيْبَ شَيْخِي عَنِّي وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّي

“Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmunya dariku.”

Para salaf berkata,

لُحُومُ الْعُلَمَاءِ مَسْمُومَةٌ

“Daging para ulama itu mengandung racun.”

Siapa yang menggibah ‘ulama, maka ia seperti memakan daging ulama yang mengandung racun, dapat menjadikan hatinya sakit atau mati.

4. Mendoakan Guru: Senantiasa mendoakan kesehatan, keselamatan, dan keberkahan bagi guru atas ilmu yang telah mereka sampaikan.

Banyak dari kalangan salaf berkata,

مَا صَلَّيْتُ إِلَّا وَدَعَوْتُ لِوَالِدَيَّ وَلِمَشَايِخِي جَمِيعًا

“Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali aku pasti mendoakan kedua orang tuaku dan guru guruku semuanya.”

Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang penuntut ilmu mendoakan gurunya sepanjang masa. Memperhatikan anak-anaknya, kerabatnya dan menunaikan haknya apabila telah wafat” (Tadzkirah Sami’ hal. 91).

WhatsApp